Kamis, 02 Juni 2016

 Seekor kuda paling binal, (Nurfatikah)

berbulu putih dan berambut kuduk tergerai,
berlari di pusat kota,
Jakarta!
Tidak peduli pada yang ada,
sekelilingnya,
juga tidak pada manusia.

Dia meringkik alangkah dahsyatnya,
menapak dan menyepak alangkah merdekanya.
Dunia ini,
seolah cuma menjadi miliknya!
Dan sekaligus seolah dia bicara:
kalau sampai waktuku
kumau tak seorang kan merayu
tidak juga kau
tak perlu sedu sedan itu
aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang


Gaung suara ini
seolah membelah langit,
membelah bumi. “

 Membelah juga rel kereta api
Di pinggi kota

Akornya juga membelah
Peron station yang
Berpagar kawat duri

Tapi sang kuda binal
Melompat tidak peduli
Sepotong ujung kawat duri
Menggores perut
Menggores juga paha

Darah segar menyebut keluar
Membuat noktah-noktah merah
Dibulunya yang putih
Tapi dia Cuma menengadah ke udara
Dan meringkik lagi :

biar peluru menembus kulitku
aku akan meradang menerjang
luka dan bisa kubawa berlari,
berlari
hingga hilang pedih peri…

dan aku akan lebih tidak peduli
aku mau hidup
seribu tahun lagi!

 Sampai juga sang kuda melayang
Diatas gerbong kereta dan gubuk – gubuk liar,
Gerbong dan gubuk busuk,
Milik perempuan – perempuan berdaki

Meneteslah darah segar,
ketika kuda melayang di atas sana.
Dan jatuh menimpa
sebuah wajah dari:

Rabu, 01 Juni 2016

cerpen bahasa Indonesia

Impian Jadi Nyata

 

“Bina! Coba kamu lihat ini,” ujar seorang anak remaja bernama Bani ini menujukkan koran ke arah si kutu laptop Bina. “Memangya kenapa?” Tanya Bina yang masih berkutat dengan laptop miliknya. Tidak memerhatikan temannya.
“Kamu ini memang tua-tua keladi keras kepalanya. Ini lihat desa kita akan dipasangkan jaringan internet,” ujarnya menunjukkan koran langsung di hadapan Bina.
“Itu isu Bani. Mana mungkin desa kita akan dipasang jaringan internet. Bani apa kamu lupa kita tinggal di tanah tinggi. Mana bisa jaringan internet ditemukan,” bantah Bina. Ia masih tidak memedulikan berita itu yang berada di depannya. Menurutnya bagai mencari kutu dalam ijuk.
“Aduh kamu itu Bina! Baca dulu, sini laptop kamu,” ujar Bani yang langsung mengambil laptop Bina.
“Eh, eh Bani kembalikan laptop aku,” ujar Bina.
“Baca dulu berita itu,” ujar Bani tegas. Dengan kesal Bina membaca koran itu.
“Kepala Desa Bahagia akan memasang internet untuk para warga Desa Bahagia. Kini warga Desa Bahagia bisa menambah wawasan lagi dengan adanya internet. Dengan bantuan satelit komunikasi yang kini lebih canggih sehingga dapat menciptakan suasana baru untuk anak bangsa untuk mendalami lautnya IPTEK,” spontan Bina mengeraskan suaranya menjadi bersorak kegirangan.
“Jadi bagaimana, kamu senang kan? Dengan adanya internet di desa kita, kamu bisa mewujudkan impian kamu. Membuat permainan online,” tawar Bani. Bina mengangguk tersenyum. “Iya kamu benar! Wah tidak sabarnya pulang langsung bermain internet,” ujar Bina kegirangan.
“Sini laptop aku. Aku masih mau main dulu,” lanjut Bina yang langsung merampas laptopnya di tangan Bani.
Sepulang dari sekolah mereka naik motor bersama pulang ke rumah masing-masing. Berhubung rumah Bani dan Bina berhadapan jadi mereka pulang bersama-sama. Saat perjalanan pulang, mereka mendengar ocehan warga kampung Desa Sejahtera.
“Eh kalian tahu kepala desa Bahagia akan memasang internet untuk warganya,” ujar salah satu warga itu.
“Iya, ya. Kenapa bisa? Bukannya Desa Bahagia itu tinggal di gunung sehingga untuk mendapat jaringan saja itu susah. Pasti ke sini dulu untuk sosialisasi,” ujar salah satu warga lagi. “Bagaimana bisa ya?” pikir mereka.
Bani dan Bina yang melihat dengan kepala sendiri dan mendengar percakapan mereka pun tersenyum melihat ekspresi wajah mereka yang kebingungan. Mereka hanya melanjutkan perjalanan mereka hingga akhirnya sampai di desa Bahagia. Bukannya langsung pulang, mereka segera ke rumah Kepala Desa untuk memastikan hal ini. Dan sesampai di rumahnya, mereka segera bertanya tentang isu tersebut. Karena berita itu menghantui pikiran Bina.
“Seperti berita itu, itu benar. Desa kita akan ada jaringan internet. Semua bisa menggunakannya. Kalian tidak usah khawatir tentang pahitnya informasi yang kita dapatkan. Kalian bisa menggunakannya untuk menambah wawasan kalian. Ibaratkan pisau yang diasah,” Jawab kepala desa tersebut.
“Tapi pak, kita kan tinggal di tanah tinggi, untuk berkomunikasi dengan alat canggih saja susah Pak. Jadi bagaimana bisa?” Tanya Bina.
“Bina sekarang itu globalisasi makin hari makin berkembang. Jadi untuk satelit komunikasi pasti diperbaharui lagi menjadi lebih canggih. Dan untuk saat ini pemasangan untuk jaringan sedang dilakukan. Bahkan sudah ada banyak jaringan yang terlihat. Barusan saya menelepon Kakak saya yang di kota,” balas Kepala desa.
Puas dengan jawaban Kepala Desa mereka pun pulang. Bina yang mempunyai impian membuat permainan online sebentar lagi akan menjadi nyata. Ia pun segera menyalakan laptopnya dan segera mengambil modem untuk mencoba jaringan internetnya. Dan jaringan internetnya sudah terhubung. “Oke, karena sudah terhubung, kita ketik download aplikasinya,” ujar Bina sambil mengetik di search engine.
“Bina, aku sudah buat sketsa desainnya,” ujar Bani tiba-tiba datang memberikan Bina sketsa permainannya.
“Jadi begitu ceritanya? Bagus ini menarik. Aku saja pusing tujuh keliling untuk menyelesaikan misinya,” puji Bina.
“Siapa dulu yang buat, Bani. Hidup Bani,” heboh Bani semangat dan kemudian mereka terkekeh.
“Tunggu dulu, ada sesuatu yang menghantui di pikiranku,” ujar Bani.
“Maksudmu?” ujar Bina.
“Di sini kampung kita, kamu tahu kan kita tinggal di tanah tinggi, mana bisa ada jaringan internet yang lancar. Meskipun satelit Indonesia makin maju tapi bagaimana bisa?” ujar Bani bingung.
“Kita memang tinggal di tanah tinggi. Banyak paku untuk berjalan. Seolah-olah kita tinggal di kolonial. Tambah lagi kita tinggal di daerah gundulan tanah yang terpencil. Karena itu aku sempat mengirimkan keluhan kita ini. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa dulu. Semua yang kita rasakan aku ungkapkan ke pemerintah daerah. Dengan mengirimkan email,” ujar Bina berbinar.
“Susah juga sebenarnya untuk kita, karena memerlukan biaya yang besar untuk ini. Tapi pemerintah membalas emailku dan ia mengatakan kalau masalah yang aku bahas ini bagus mengingat Indonesia adalah kebanyakan bertempat tinggal di daerah pedesaan sehingga PEMDA mengajukan hal yang sama di pemerintahan pusat. Sehingga seperti kita rasakan kita bisa menambah wawasan kita,” tambahnya.
“Kalau kamu yang beritahu kenapa tidak mengatakannya langsung?” Tanya Bani.
“Aku tidak mau. Sudah lupakan saja kita lanjut pembuatannya,” ujar Bina yang langsung mengalihkan topik.
“Lah kenapa alihkan topik,” ujar Bani.
“Setidaknya kita seri. Kamu aja aku pernah yanya kenapa nama kamu Bani padahal kamu cewek? Mana pula nama kita mirip Bina Bani sangat mirip,” omel Bina.
“Eh ibu tiri! Situ sudah lupa kalau nama lengkap saya Banisya Saputri. Ada putri di belakangnya ibu!” protes Bani.
“Terserah lah kalau begitu kita lanjut. saja,” ujar Bina lagi-lagi mengalihkan topik.
Bani yang juga membawa laptop membantu Bina memberikan warna dan efek yang bagus untuk hasil gambarnya.
“Bina, tujuan kamu untuk membuat permainan online ini untuk apa?” Tanya Bani.
“Aku ingin, meskipun tinggal di daerah tanah sawah yang terpencil, tapi kita bisa menjadi pelajar yang membuat permainan di kampung kita,” jawab Bina dan dapat balasan Bina yang meng-ohkan saja.
Tidak disangka ternyata sudah larut malam dan Bani berpamitan pulang. Mereka bisa melanjutkannya besok. Lagi pula besok adalah hari Minggu. Jadi mereka bisa lebih leluasa untuk melanjutkannya. Bina yang melihat hasil kerja mereka merasa puas dengan semuanya. Ia ingin mempercepatkan waktu untuk besok. Mereka berdua berbagai tugas. Bani yang mengatur warna gambar dan efek yang bagus dan Bina yang mengatur musik dan jalannya permainan itu. Untuk musiknya Bina menggunakan musik asli dari Indonesia. Ia hanya mengubahnya menjadi instrumental. Dan sedikit diubah. Jika orang Indonesia memainkannya Bina yakin pasti mereka mengenalnya.
Esoknya, Bina dan Bani melanjutkan prosedur kerja mereka. Dan akhirnya tinggal disatukan. Untuk ini Bina sulit untuk menggabungkannya. Butuh waktu yang lama untuk menyatukannya agar menjadi satu hasil yang cocok. Untuk hari itu ia baru menyelesaikan 2 babak. Tapi mereka tidak putus asa. Hingga akhirnya mereka menyelesaikannya dalam kurung waktu 2 bulan. Mereka puas dengan hasilnya. Untuk pertama kalinya mereka memainkannya. Dan benar-benar luar biasa hasilnya. Tidak disangka hasil kerja keras mereka begitu memuaskan bahkan permainan mereka diterima di situs online sehingga mereka bisa mendapat keuntungan dari permainan itu.
‘Sebuah karya anak bangsa pedesaan membuat permainan online sukses membuat banyak masyarakat yang menggunakannya.’
Itulah berita yang kini menjadi heboh warga Indonesia karena hasil kerja Bina dan Bani. Mereka tersenyum melihat hasil kerja mereka. Mereka berpikir kalau ialah bagaikan mencari kutu di malam hari. Nyatanya seperti memasang obor yang redup diganti dengan bola lampu yang terang.

Tamat

Cerpen Karangan : Mega Nanda