Seekor kuda paling binal, (Nurfatikah)
berbulu putih dan berambut kuduk tergerai,
berlari di pusat kota,
Jakarta!
Tidak peduli pada yang ada,
sekelilingnya,
juga tidak pada manusia.
Dia meringkik alangkah dahsyatnya,
menapak dan menyepak alangkah merdekanya.
Dunia ini,
seolah cuma menjadi miliknya!
Dan sekaligus seolah dia bicara:
kalau sampai waktuku
kumau tak seorang kan merayu
tidak juga kau
tak perlu sedu sedan itu
aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang
Gaung suara ini
seolah membelah langit,
membelah bumi. “
Membelah juga rel kereta api
Di pinggi kota
Akornya juga membelah
Peron station yang
Berpagar kawat duri
Tapi sang kuda binal
Melompat tidak peduli
Sepotong ujung kawat duri
Menggores perut
Menggores juga paha
Darah segar menyebut keluar
Membuat noktah-noktah merah
Dibulunya yang putih
Tapi dia Cuma menengadah ke udara
Dan meringkik lagi :
biar peluru menembus kulitku
aku akan meradang menerjang
luka dan bisa kubawa berlari,
berlari
hingga hilang pedih peri…
dan aku akan lebih tidak peduli
aku mau hidup
seribu tahun lagi!
Sampai juga sang kuda melayang
Diatas gerbong kereta dan gubuk – gubuk liar,
Gerbong dan gubuk busuk,
Milik perempuan – perempuan berdaki
Meneteslah darah segar,
ketika kuda melayang di atas sana.
Dan jatuh menimpa
sebuah wajah dari:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar